Seperti yang saya tulis di posting sebelumnya Belajar untuk Menerima Perbedaan dengan Sekolah Inklusif, dari kegiatan workshop sekolah inklusi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, saya terinspirasi untuk menulis sebuah puisi yang saya dedikasikan pada saudara-saudara kita yang difabel.
Jika engkau mengira aku tidak mendengar, Salah !
aku mendengar melalui bisikan-bisikan lembut pada batinku.
Jika engaku mengira aku tidak mampu berbicara, Itu juga salah.
aku berbicara lewat nada-nada dan isyarat yang dapat kau dengar dengan kesadaranmu
Aku berjalan dengan semangat yang tidak terpatahkan oleh ketidakmampuanku
Aku melihat dengan mata kuasa yang tidak terbutakan oleh penglihatanku
Aku seperti engaku apa adanya
Hanya engkau memandang aku berbeda
Aku sama sekali sama dengan engkau sebagaimana seharusnya
Hanya engkau tidak mau disamakan dengan aku
Aku berbeda bukan karena beda
Aku berbeda hanya karena dibedakan
Aku tidak sama bukan karena tidak sama
Aku tidak sama hanya karena tidak disamakan
Egkau melihat aku luar biasa
Hanya karena engkau terbiasa dengan kebiasaanmu
Bagaimana jika kita berganti…..?
Aku masuk dunia kebiasaanmu dan engkau masuk dunia ketidakbiasaanku
Untukmu ketidakbiasaan bagiku biasa
Untukmu ketidakmampuan bagiku kemampuan
Jika aku mampu dan biasa sebagaimana engkau mampu dan biasa
Pada hakikatnya kita samaMalang, 24 Mei 2013
Post a Comment