Belajar untuk Menerima Perbedaan dengan Sekolah Inklusif

Pada hari Jumat (24/5/2013), saya menghadiri acara workshop sekolah inklusif yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa fakultas hukum peduli keadilan Universitas Brawijaya. Ada hal yang mengesankan dari workshop tersebut, sebagai catatan saya selama mengikuti kegiatan.

  • Persiapan panitia well planned and well organized. Kegiatan ini dikemas dengan cara yang tidak biasa dan heboh. Dua jempol saya untuk panitia pelaksana.
  • Terdapat penampilan dari anak-anak sekolah luar biasa menyanyikan sholawat tombo ati yang diiringi oleh musik tradisional dan alat musik modern. Mereka juga mampu sebagaimana orang normal pada umumnya

Kita jarang sekali diajarkan untuk menerima perbedaan, sebaliknya kita diinduksi dengan informasi jika berbeda maka tidak sama, kalo tidak sama, berarti tempatnya harus berbeda. Begitulah paradigma umum yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan kita, termasuk di dalamnya adalah dunia pendidikan.

PSLD UB

Selama ini, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus akan disekolahkan pada Sekolah Luar Biasa dengan asumsi, mereka memiliki perbedaan dalam menjalani proses pendidikan. KOnsekuensi dari pemisahan ini, maka dibuatlah kurikulum untuk Sekolah Luar Biasa yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Di satu sisi, perbedaan ini sudah menimbulkan ketimpangan, dimana anak-anak yang sekolah di SLB dipersiapkan dengan kurikulum keahlian teknis dengan tujuan mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Smeentara di seklolah umum, mereka diberikan kurikulum berbasis kompetensi dan mereka disiapkan untuk menjadi profesional.

Pertanyaannya adalah, apakah jika seorang anak memiliki kebutuhan khusus, apakah mereka tidak bisa menjadi profesional juga? Tentu jawabannya tidak. Jika demikian, maka sudah sewajarnya sekolah membuka pintu lebar-lebar untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus dalam lingkungan sekolah yang biasa. Jika mereka (anak-anak berkebutuhan khusus) ini diterima sebagaimana orang normal pada umumnya, ini sudah menjadi permulaan yang positif bagi penerimaan diri mereka dan penerimaan orang lain terhadap diri mereka.

Dari workshop tersebut saya belajar:

perbedaan ada bukan untuk membeda-bedakan antara individu satu dengan indvidu yang lain. Perbedaan ada untuk saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain.

Dari kegiatan tersebut juga saya terinspirasi untuk menulis sebuah puisi dengan judul “UNTUKMU KETIDAKBIASAAN”. Silahkan dibaca pada postingan saya yang berikutnya. Semoga bermanfaat.

Post a Comment

Previous Post Next Post