Belajar Menjadi Ayah #1 Memandikan Aqila

Salah satu hal yang membuat seorang ayah bahagia melihat anak-anaknya adalah melihat mereka tumbuh dengan perasaan bahagia, semangat dan melihat masa depan mereka lebih baik dari keadaan hari ini. Inilah yang saya rasakan. Melihat anak saya tumbuh dengan segala keceriaannya. Kadang-kadang saya mengguman, betapa luar biasanya Allah telah menjadikan semua proses ini menjadi begitu indah untuk saya syukuri.

Aktivitas pagi saya tidak jauh berbeda dengan orang lainnya, setelah menunaikan sholat shubuh lalu merapikan rumah dan menyiapkan semua kebutuhan mandi pagi untuk si Buah Hati. Saya memang pernah meminta pada istri, selama saya bisa memandikan si kecil, biarkan saya saja yang melakukannya. Istri saya bertanya, apa Abi nda malu melakukannya? tentu saja tidak jawab saya waktu itu.

Menurut saya pada dasarnya tidak ada pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan kecuali yang sudah ditentukan oleh Allah. Semua bisa dilakukan oleh siapapun tanpa harus merasa malu, terlebih urusan memandikan anak. Saya sendiri mulai belajar memandikan anak sejak si kecil mulai berumur 3 minggu. Tentu saja berbeda sensasi dan pengalamannya tiap memandikan dia setiap harinya. Bagi saya, melihat dia ceria dan segala tingkahnya pada saat mandi merupakan pemompa semangat yang tiada henti buat saya. Subhanallah. Ini betul-betul luar biasa.

Memandikan anak, bukan haya sekedar aktivitas menyirmakan air ke seluruh tubuh anak. Tetapi lebih dari itu, aktivitas ini memiliki efek dan fungsi multiple. Saya bisa membuat dia lebih akrab dan merasa nyaman dengan dia, dia bisa merasakan bahwa dia dilindungi dengan baik, dia merasa diperhatikan sepenuhnya, dia merasa diberi kebebasan untuk bermain dengan semua alat mandinya. masih banyak lagi yang lainnya.

Setidaknya Ada 3 hal yang bisa dikembangkan saat bersama dengan anak pada momen-momen tersebut:

Pertama, mengajarkan dan membiasakan anak pentingnya kebersihan. Anak tidak pernah sadar tentang arti kebersihan. Hal itu merupakan bentukan dan pembiasaan dari orangtua. Menurut saya pada konteks-konteks awal kehidupan, anak harus dibiasakan melalui pembiasaan yang tegas dan jelas. Tidak boleh ada keragu-raguan dalam menerapkan kedisiplinan karena hanya dengna hal itu anak akan dibentuk. Dlam pengertian yang luas, pada periode awal kehidupannya, anak ibaratkan tanah liat potensial, dan orangtua merupakan seniman kreatif yang dpat membentuk tanah tersebut menjadi seperti yang dicita-citakan orangtua. Seperti terlihat jelas dalam ungkapan tidak ada satupun orangtua yang ingin anaknya tidak berhasil dan menajdi orang yang tidak biak dlam kehidupanya. Justru semua orangtua mengharapkan anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dna lebih berhasil dalam kehidupannya.

Pertanyaan kontemplatifnya adlah sudahkah kita memberikan pembentukan yang terbaik untuk anak-anak kita? Terbaik dalam norma dan ukuran yang baik. Norma yang bagaimana? Kita sendiri yang menentukan norma tersebut berdasarkan nilai-nilai yang kita jadikan panutan dalam kehidupan kita.

Kedua, mengembangkan kreativitas anak dengan bermain selama mandi. Psikologi berpandangna bahwa bermain bagi seorang anak merupakan pekerjaan yang serius, sama seperti kita yang sedang mengerjakan proyek besar pada profesi kita. Karena itu jangna pernah menganggap remeh permainan yang sedang dikerjakan oleh anak kecil. Saat merka bermain, mereka mengembangkan: sistematika berpikir, pola nalar, mengembkan pengalaman eksploratif, menemukan dunia baru, dan belajar menemukan rahasia. Coba kita perhatikan seorang bayi 1 tahun sedang bermain, dan anda tanyakan pada diri sendiri, kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh anak yang sedang bermain tersebut. Cobalah menduga-duga, tanpa Anda duga mereka akan terlihat sangat jenius.

Ketika memandikan anak, saya mengajaknya bermain dengnan segala macam instrumen yang ada pada sast dia mandi. Saya mengakrabkan anak dengan peralatan mandi dengn melibatkan alat-alat trsebut dalam imajinasi anak. Benda-benda tersebut menjadi sangat hidup dalam imajinasi anak, sebuah benda bisa memiliki berbagai bentuk ekspresi dan masuk dalam brrbagai narasi cerita. Jika kita menjadi orangtua bijak kita bisa memasukkan values dalam narasi tersebut yang secara perlahan membentuk karakter dari anak tersebut.

Dan ketiga, membangun hubungan kekeluargaan yang erat di antara orangtua dan anak. Saya pernah menulis bahwa hubungan orantua-anak bukan saja dibentuk oleh pertalian darah, tetapi dibentuk oleh pembiasaan. Bahkan saya sering mengatakan kepada istri bahwa, jika anak kecil yang dibesarkan oleh orang lain sejak dia masih bayi, maka orangtua bagi bayi tersebut adalah mereka yang membesarkannya. Jadi dalam konteks ini kedekatan orangtua-anak dibnetuk melalui pembiasaan sehari-hari.

Pertanyaan yang penting untuk direnungkan, jika yang membesarkanmu dengnan penuh kasih sayang adalah orang lain, masihkah kamu mengatakan orangtuamu adalah orangtuamu? Ataukah orangtuamu adalah mereka yang membesarkanmu, dan orangtuamu adlah orang lain?

Selamat membaca:
Ilhamuddin Nukman, S.Psi, M.A

Post a Comment

Previous Post Next Post