Dzikir as Affirmative Words


Saya tertarik untuk menanggapi tulisan Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo (Rektor UIN Maliki Malang) dalam facebook beliau tentang "Berdzikir". Meski kapasitas saya belum layak untuk menanggapi tulisan tersebut, tetapi saya ingin memberikan komentar saja. Jika ada yang salah, maklumin aja, soalnya masih baru belajar nulis..hehehehe :)


Secara sederhana, afirmasi merupakan kata atau kalimat positif yang berulang kali kita sebutkan untuk memberikan efek positif ke dalam diri kita. Seringkali kita menggunakan kalimat-kalimat semacam ini manakala kita membutuhkan semangat yang ekstra, atau sugesti yang lebih terhadap diri sendiri agar dapat melakukan sesuatu atau menghadapi sesuatu. Menurut hemat saya, ada dua konsepsi inti dalam kalimat afirmasi, yaitu: Kalimat Positif, dan Berulang-ulang.


Menurut Okky Sulistijo, tujuan afirmasi adalah mengulang-ulang sebuah pernyataan secara terus menerus, dari hari ke hari, hingga pernyataan tersebut masuk dengan benar dalam pikiran bawah sadar. Manakala hal ini terjadi maka pikiran bawah sadar akan merasakan perbedaan antara apa yang seolah-olah ‘nyata’ dengan dunia luar kita yang nyata.


Pengulangan yang dimaksud bertujuan memberikan penguatan atau pelipatan penguatan terhadap kondisi mental pikiran kita sehingga pikiran bawah sadar kita terpengaruhi atau terkontrol oleh hasrat positif sesuai dengan yang kita nyatakan. Atas dasar inilah, saya ingin mengemukakan bahwa kekuatan kata-kata melebihi dari sekadar kekuatan pengkondisian. Seseorang yang memberikan pernyataan tersebut, baik sadar atau tidak sadar dengan apa yang dinyatakannya, namun pada faktanya, pikiran hanya akan menerima satu realitas bahwa apa yang kita sampaikan merupakan sebuah kenyataan. Hal seperti ini diungkapkan pula oleh Bapak Taufik Pasiak dalam bukunya Revolusi IQ, EQ, SQ, bahwa realitas otak tidak membedakan kenyataan atau mimpi. Bagi otak dan pikiran kita, kedua hal tersebut tetaplah sebuah fakta yang diterima oleh pikiran kita. Jadi ketika kita menyatakan sesuatu yang tidak seharusnya, maka otak akan mencatat tersebut sebagai sebuah realitas memori, yang tidak bisa terbuang begitu saja, tetap akan memiliki jejak memori dalam kumpulan memori kita. Bapak Taufik Pasiak menyatakan realitas ini sebagai hukum otak yang tidak membedakan antara kenyataan dan mimpi.


Ibarat sebuah kertas, semakin banyak goresan tinta dalam kertas tersebut akan semakin menunjukkan kualitas kertas tersebut. Di sisi lain, konten dari goresan tersebut akan memberikan perbedaan apakah kertas tersebut berharga atau tidak. Sebagai contoh, kerta yang digunakan untuk mencetak buku, sama namanya dengan kertas yang digunakan untuk mencetak kitab suci. Akan tetapi kedua jenis kertas ini memiliki nilai yang berbeda, yang satu hanyalah sebuah buku, dan yang satunya adalah kitab suci, dan diagung-agungkan oleh orang yang mempercayainya.


Fungsi afirmasi pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kualitas subjective well-being dari manusia. Seseorang yang sering menggunakan afirmasi dan mengulangnya secara terus menerus dan dengan kesungguhan hati akan memperoleh kualitas kehidupan yang lebih baik, dari pada seseorang yang menggunakan afirmasi begitu saja.


Tidak jauh berbeda dengan afirmasi, dzikir merupakan salah satu metode afirmative yang berlandaskan pada nilai-nilai religiusitas dan berorientasi pada Yang Maha atau Tuhan itu sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo dalam tulisannya "Dzikir" tersebut, dalam kalimat dzikir tidak ada satupun yang menggunakan pernyataan-pernyataan yang negatif. Saya memahami, kalimat-kalimat positif yang sering kita gunakan dalam proses dzikir merupakan afirmasi yang bernilai sangat dalam. Dimana kita mengorientasikan afirmasi kita pada Tuhan Yang Maha Tinggi, dan dengan sendirinya akan memantul pada diri kita sendiri. Saya memahami dzikir bukan saja pernyataan-pernyataan yang sifatnya memuji atau mengagungkan Tuhan, tetapi dzikir adalah semua kalimat positif yang kita rujukkan kepada Tuhan. Entah pernyataan tersebut sentralnya adalah Tuhan atau diri kita sendiri, sebagai unsur dari semesta.


Dari sudut ini, saya membedakan dua jenis afirmasi. Afirmasi yang berorientasi pada Yang Maha Afirmasi atau afirmasi transenden, dimana afirmasi yang kita ucapkan merupakan doa-doa kepada Yang Maha Mengabulkan doa, sebagai contoh: "Kepada-Mu Tuhan aku berterima kasih, dan atas izin-Mu hari ini aku bahagia." Dan kedua adalah afirmasi yang imanen, dimana afirmasi ini berupa pernyataan-pernyataan yang merujuk kepada diri sendiri, atau sentralnya adalah diri sendiri, sebagai contoh: "Saya hari ini bahagia."


Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Imam bahwa dzikir itu harus banyak dan berulang-ulang. Berkaitannya dengan hal ini, saya bertanya-tanya: "kenapa saat bertasbih, bertahmid, dan bertakbir jumlahnya harus 33 kali. Kok bukan lebih dari itu atau lebih sedikit dari jumlah itu?" Saya berasumsi dan berusaha menjawab kebingungan saya sendiri, bahwa semakin banyak jumlah dzikir yang kita ucapkan maka jejak memori di otak atas kalimat-kalimat tersebut semakin kuat. Dan semakin kuat jejak memori tersebut di otak, maka potensi untuk masuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi pola pikir kita semakin kuat. Selain itu, dengan adanya pengulangan terhadap kalimat-kalimat dzikir tersebut, diharapkan akan muncul "insight" secara personal terhadap kalimat-kalimat tersebut, sehingga lebih mampu mempengaruhi kualitas mental dan pikiran kita. Insight tersebut akan mampu merekatkan antara lisan, pikiran, dan perasaan. Dimana ketiga aspek ini, memang harus selalu hadir untuk menggapai kebijaksanaan yang tertinggi.


Bagi sebagian orang, sulit untuk berdzikir secara kontinyu.Tetapi bagi sebagian orang yang lain, berdzikir adalah candu yang tidak bisa ditinggalkannya sehingga membuatnya sangat suka berdzikir. Bahkan pada tataran tertentu dzikir yang khusuk dapat mengantarkan seseorang mencapai kondisi atau tahapan ekstase, dimana ia merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.


Sebagai akhir dari tulisan ini, saya hanya ingin menyatakan kembali bahwa dalam kehidupan ini banyak sekali situasi yang seharusnya membuat kita menjadi lebih mudah untuk berdzikir dan bertafakur. Dzikir memang tidak hanya lisan saja, tetapi dzikir juga dapat berupa tindakan, pikiran, perasaan. Kesadaran kita terhadap diri kita, semesta, dan segala hal lainnya, juga merupakan dzikir. Terima kasih Prof. Imam telah mengingatkan kita untuk terus berdzikir dan meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikir kita. Semoga ini semua dapat menjadi inspirasi.....Amin!!!


Ilhamuddin Nukman



Post a Comment

Previous Post Next Post