Mencari Pemimpin Indonesia

imageKrisis kepemimpinan yang melanda Indonesia, membuat masyarakat merindukan sosok yang mampu mewakili keragaman suku, budaya, etnis, bahasa, dan agama yang ada. Krisis tersebut tidak hanya menghilangkan arah perjalanan bangsa tetapi juga menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang inferior di hadapan bangsa lain. Hal ini disebabkan tidak adanya visi yang jelas ke mana bangsa mengarah. Seharusnya filosofi yang mendasari perjalanan bangsa diperjelas sejak awal oleh pemimpin sebelum menjalankan kepemimpinannya. Kekaburan filosofi dasar bangsa dapat menghilangkan kejelasan visi, misi, tujuan dan tugas yang mendesak bagi bangsa ini.
Diakui atau tidak, bangsa ini adalah bangsa yang “penurut”. Bangsa ini jarang sekali menjadi pelopor, pionir, inspirator kemajuan yang dapat diikuti oleh bangsa lain. Wajar saja terjadi demikian, karena bangsa ini belum memiliki pegangan yang mendasar bagi kemajuan bangsa ini sendiri. Logikanya, bagaimana bangsa ini mampu memberikan inspirasi kemajuan bagi bangsa lain jika inspirasi itu sendiri tidak pernah ada bagi kemajuan bangsa ini sendiri.
Bagi saya menjadi “penurut” bukanlah prinsip yang membanggakan. Menjadi penurut berarti bangsa ini tidak memiliki pendirian, tidak memiliki prinsip tentang kebangsaannya sendiri. Dalam segala aspek kehidupan, bangsa ini masih hanya menjadi pengikut bagi kemajuan bangsa lain. Akibatnya, bangsa ini selalu menjadi sapi perahan bagi kemajuan bangsa lain. Yang lebih ironis, pribadi bangsa yang demikian tidak terjadi pada satu sisi kehidupan tetapi juga hampir keseluruhan kehidupan bangsa. Memang pada era globalisasi seperti sekarang ini, sulit untuk membedakan batas antara bangsa-bangsa, bahkan semuanya sangat kabur. Sebagai contoh, di Indonesia dapat ditemukan berbagai macam jenis mazhab pendidikan, tetapi kita sulit menentukan mazhab atau paradigma apa yang layak untuk dikembangkan pada bangsa ini yang sesuai dengan kearifan budaya bangsa. Di sisi lain, bangsa kita adalah bangsa yang masih sangat getol dengan budaya konsumerisme, tetapi kita jarang menggerakkan bangsa ini menjadi bangsa produsen.
Menghadapi kondisi bangsa saat ini, maka ada tiga hal yang seharusnya kita lakukan untuk menciptakan bangsa ini menjadi bangsa yang kokoh menghadapi persaingan global. Pertama, siapa pun pemimpinnya ia harus memiliki filosofi mendasar, visi yang jelas, misi yang spesifik, dan tujuan yang jelas ke mana bangsa ini akan mengarah. Kedua, fondasi awal pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan, untuk itu sebagai bangsa yang beraneka ragam budaya, maka sudah selayaknya bangsa ini menggali akar-akar kearifan pendidikan yang berasal dari budaya bangsa ini sendiri. Ketiga, menggerakkan ekonomi kerakyatan yang tidak hanya menguntungkan segelintir elit saja tetapi juga dinikmati oleh rakyat bangsa ini.

Post a Comment

Previous Post Next Post