Perjalanan Kita

Ia mengembara dalam waktu menuju akhir skenario yang tak kunjungia temui. Ia telah berjalan ribuan mil tanpa rasa lelah dan haus. Ingin ia beristirahat sebentar sekedar menghilangkan lapar dan haus tapi ia benar-benar telah dikejar oleh waktu untuk terus berjalan, berjalan, berjalan dan terus berjalan. Ia telah melewati berpuluh-puluh musim yang ia sudah tak ingat lagi kapan ia bahagia dan sedih. Semua telah bercampur aduk dengan peluh yang mengucur deras di dahinya. Sesekali ia menghela napas panjangnya sekedar menghilangkan penat dalam pikirannya. Ia juga merasa ingin menangis. Tapi ia bukan anak kecil lagi. Ia malu pada mentari yang telah membimbingnya jika siang menemaninya, ia malu pada gelap malam hari yang telah menyelimutinya selama beribu-ribu hari. Ia terus berjalan, sesekali ia berlari, berteriak, mengadu kepada langit: kapan semua ini akan berakhir?


Post a Comment

أحدث أقدم