Nikmatnya Berdiskusi

Sabtu, 16 November 2013. Rasanya sudah lama saya tidak berdiskusi dengan serius dengan tema-tema yang kelihatan sederhana tetapi analisisnya dalam, kritis, dan holistik. Rasa-rasanya saya merasa tercerahkan dengan berbagai tema-tema ini.

Pagi ini, saya mendapatkan undangan untuk mempresentasikan hasil penelitian tentang “Dorongan Melakukan Pembelian Barang Bermerk”. Di samping penelitian ini terdapat beberapa penelitian lain yang dilakukan oleh teman-teman saya:

  1. Analisa Kesiapan Sektor Finansial dan Investasi Kota Malang terkait Implementasi ASEAN ECONOMIC COMMUNITY tahun 2015 yang ditulis oleh P.M. Erza Killian, S.IP., M.IEF; Henny Rosalinda, S.IP., M.A; dan Ni Komang Desy AP, S.IP., M.Si. dari Jurusan Hubungan Internasional FISIP UB
  2. Pemetaan Permasalahan dan Potensi Ketahanan Pangan Non-Beras di Kota Malang yang ditulis oleh Asih Purwanti, S.IP., M.IP; Mely Noviryani, S.Sos., MM; Yustika Citra Mahendra, S.IP., M.A; Mega Nisfa Makhroja, S.IP dari Jurusan Hubungan Internasional FISIP UB
  3. Incorporating Islamic Spiritual Wisdom and Virtuae of Ethics in Promoting Behavioral Change (The Case of Biogas as Altenative Energy Project in Rural Areas of Nongkojajar, East Java, Indonesia) dari Jurusan Komunikasi FISIP UB
  4. Peran Ekonomi Perempuan pada Keluarga Dalam Upaya Penanggulangan Kemiskinan (Studi pada Industri Kerajinan Mendong di Desa Wajak) yang ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana, MS. dekan FISIP UB.

Terdapat beberapa catatan menarik dari hasil diskusi ini:

Ilhamuddin, S.Psi, M.APertama, yang menarik dari semua penelitian ini bahwa ternyata banyak tema-tema penelitian yang menarik untuk diangkat dalam penelitian meskipun tema tersebut ringan. Bahkan isu-isu perubahan komunitas yang ada di lingkungan sosial kita dapat diangkat dan menjadi model perubahan komunitas.

Kedua, isu-isu utama yang muncul dalam diskusi kali ini adalah tentang ekonomi, baik dari perspektif sosiologi, psikologi, hubungan internasional, dan komunikasi.

Dan yang menarik lagi, pembangunan ekonomi yang mendasar pada suatu komunitas tidak bisa bermula dari orang-orang yang berasal dari luar komunitas, sebaliknya harus dimulai oleh orang-orang yang berada dalam komunitas itu sendiri. Akan tetapi masalahnya gerakan dari orang-orang dalam kadang-kadang tidak bisa berjalan tanpa ada dukungan dari pihak luar dalam bentuk pendampingan, pengembangan, dan bimbingan, seperti dari industri, perguruan tinggi, pemerintahan, dan instansi swasta terkait lainnya.

Pertanyaannya, dukungan yang seperti apa yang dibutuhkan oleh komunitas tersebut? Saya menyimpulkan dari proses diskusi yang menarik ini, ada dua dukungan yang sangat diperlukan, yaitu: (1) Pengembangan kapasitas sumber daya manusianya, dan (2) Pengembangan sumber daya kelembagaan insitusional komunitas, baik berupa kelembagaan formalnya, maupun kelembagaan kulturalnya.

Ketiga, kayaknya kita perlu lebih sering berdiskusi untuk menajamkan pemahaman kita terhadap isu-isu sosial dan berbagai permasalahannya. Hal ini juga semakin mengukuhkan pemahaman saya bahwa permasalahan sosial tidak monofactor atau disebabkan oleh faktor tunggal tetapi multifactor. Tentu saja analisis problem solvingnya tidak hanya atau tidak boleh hanya dalam satu perspektif saja tetapi harus multi perspektif. Namun pertanyaan lebih lanjutnya, sudah siapkah kita untuk berdiskusi dengan multif perspektif tersebut?

Kita menyadari, kadang-kadang ke-egosentrisme keilmuan kita membuat kita terkotakkan hanya dalam perspektif keilmuan kita saja. Mungkin saatnya sekarang kita mengalahkan keegoan tersebut, lalu maju sepuluh langkah lagi dengan semangat kebersamaan mencarikan strategi terbaik untuk masalah kita.

NB. Mohon maaf jika runtutan tulisan ini terlihat amburadul Selamat membaca.

Ilhamuddin, S.Psi, M.A Smile

Post a Comment

Previous Post Next Post